Saya masih ingat LogoContest.com sebagai salah satu website yang pernah cukup sering saya buka ketika mencari sayembara desain logo. Bukan cuma sekadar pernah mampir, saya juga beberapa kali mendapatkan kemenangan di sana. Jadi ketika suatu hari saya mencoba mencarinya lagi dan mendapati website tersebut sudah tidak bisa diakses seperti sebelumnya, rasanya agak aneh juga. Ada perasaan seperti melihat salah satu bagian dari perjalanan saya sebagai desainer tiba-tiba hilang begitu saja.

Yang membuatnya semakin menarik, sebenarnya pada 2025 saya masih bisa mengakses LogoContest. Website-nya memang sudah terasa jauh lebih sepi dibandingkan masa-masa sebelumnya, tetapi aktivitasnya belum benar-benar berhenti. Masih ada kontes yang masuk, masih ada desainer yang mengirimkan karya, dan masih ada pemilik brand yang memberikan komentar serta memilih desain pemenang. Hanya saja, frekuensinya terasa semakin sedikit. Saya bahkan pernah melihat dalam waktu sekitar seminggu tidak banyak kontes baru yang bisa diikuti.

Kemudian masuk 2026, kondisinya berbeda lagi. Ketika saya mencoba mengaksesnya, website tersebut sudah tidak bisa digunakan seperti dulu. Dari situ muncul pertanyaan yang mungkin juga ada di kepala desainer lain yang pernah mengenal platform ini: sebenarnya apa yang terjadi dengan LogoContest?

Apakah memang sudah tutup? Kalau iya, kenapa? Apakah pemilik brand sudah mulai meninggalkan sistem sayembara desain? Atau jangan-jangan perkembangan AI ikut membuat model bisnis seperti ini semakin sulit bertahan?

Saya tidak mau asal mengatakan bahwa LogoContest mati karena AI, karena saya tidak menemukan pernyataan resmi dari pengelolanya yang menyebutkan hal tersebut. Jadi kalau membicarakan penyebabnya, kita harus membedakan antara fakta yang masih bisa ditemukan dengan dugaan yang masuk akal berdasarkan perubahan industri desain.

Saya punya alasan sendiri kenapa cukup sayang dengan LogoContest

Buat orang yang belum pernah mengikuti sayembara desain, mungkin agak sulit memahami kenapa saya masih ingat website ini. Bukankah cuma website tempat orang mengirim logo?

Kurang lebih memang begitu, tetapi pengalaman mengikuti kontes desain punya sensasi tersendiri. Kita membaca brief dari pemilik brand, kemudian mencoba menerjemahkannya menjadi sebuah konsep visual. Brief adalah penjelasan kebutuhan desain yang diberikan oleh klien, misalnya nama bisnis, bidang usaha, karakter brand, target konsumen, warna yang diinginkan, sampai contoh desain yang mereka sukai atau tidak sukai.

Setelah membaca brief, kita mulai membuat konsep. Bisa berupa monogram, simbol, logotype, kombinasi huruf dan bentuk, atau pendekatan lain sesuai kebutuhan brand. Setelah selesai, desain dikirim ke kontes dan kita tinggal melihat bagaimana respons pemilik brand.

Di sinilah bagian menariknya. Desain kita bisa mendapatkan komentar, masuk peringkat, diminta revisi, atau bahkan tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Kita juga harus bersaing dengan desainer lain yang mungkin mempunyai pendekatan yang sama sekali berbeda terhadap brief tersebut.

Kalau akhirnya dipilih sebagai pemenang, tentu ada kepuasan tersendiri. Saya sendiri pernah beberapa kali merasakan kemenangan di LogoContest. Karena itu, website tersebut punya kenangan yang cukup nyata bagi saya, bukan sekadar nama platform yang kebetulan pernah saya gunakan.

LogoContest sebenarnya masih punya aktivitas pada 2025

Kalau hanya melihat kondisi sekarang, mungkin orang akan mengira LogoContest sudah lama sekali mati. Namun jejak yang masih tersimpan di internet menunjukkan bahwa pada 2025 platform ini masih menjalankan sejumlah kontes.

Salah satu contohnya adalah kontes I am Transformation. Kontes tersebut memiliki hadiah US$300 dan tercatat memperoleh 527 submission dari 32 desainer. Submission dalam konteks ini berarti kiriman desain yang diberikan oleh para peserta kontes. Angka 527 menunjukkan bahwa meskipun platform secara keseluruhan mungkin sudah terasa sepi, masih ada kontes tertentu yang mampu menarik banyak karya. (LogoContest)

Contoh lainnya adalah kontes Fly Fun Flight Club yang memiliki hadiah US$499 dan tercatat memperoleh 428 submission dari 25 desainer. Pada halaman kontes tersebut juga masih terlihat komunikasi antara pemilik brand dengan para desainer mengenai desain yang dikirim, perubahan konsep, warna, bentuk, sampai proses pemilihan desain. (LogoContest)

Ada juga kontes Krystl pada 2025 dengan hadiah US$200 yang tercatat mendapatkan 326 submission dari 30 desainer. (LogoContest)

Jadi kalau kita mengatakan bahwa pada 2025 LogoContest sudah sama sekali tidak memiliki aktivitas, itu tidak benar. Data yang masih bisa ditemukan justru menunjukkan bahwa kontes masih berjalan dan beberapa di antaranya mendapatkan ratusan desain.

Namun pengalaman saya tetap terasa berbeda. Masalahnya bukan semata-mata ada atau tidak ada kontes, melainkan seberapa sering kontes baru muncul dan seberapa hidup platform tersebut terasa bagi orang yang rutin membukanya. Beberapa kontes yang masih ramai tidak otomatis membuat keseluruhan platform terasa seramai dulu.

Sayembara desain memang punya sisi yang cukup berat

Kalau dipikir-pikir, sistem sayembara sebenarnya cukup menarik untuk pemilik brand. Mereka tidak harus langsung memilih satu desainer dan berharap mendapatkan hasil yang sesuai. Mereka bisa membuat satu kontes, memberikan brief, kemudian melihat berbagai konsep dari banyak desainer.

LogoContest sendiri pada halaman informasi harga yang masih dapat ditemukan mencantumkan hadiah kontes mulai dari US$200, dengan hadiah maksimum yang tercantum mencapai US$2.500. Platform tersebut juga menjelaskan rekomendasi nilai hadiah berdasarkan jumlah desain yang diharapkan. Untuk hadiah US$200, misalnya, mereka menyebut kisaran sekitar 40–75 desain, sedangkan hadiah yang lebih tinggi ditujukan untuk jumlah desain yang lebih banyak. (LogoContest)

Dari sisi pemilik brand, ini tentu terdengar menarik. Satu proyek bisa mendapatkan puluhan atau bahkan ratusan alternatif desain.

Tetapi dari sisi desainer, sistemnya punya risiko yang cukup besar. Kita menghabiskan waktu membuat konsep tanpa kepastian mendapatkan bayaran. Kalau desain tidak terpilih, waktu yang sudah digunakan tidak otomatis menghasilkan uang.

Saya sendiri melihat hal tersebut sebagai bagian dari permainan di platform seperti ini. Kita mengikuti kontes karena berharap bisa menang, sekaligus menggunakan kesempatan tersebut untuk mengasah kemampuan membaca brief dan memahami selera klien.

Tetapi tentu saja, semakin sedikit kontes yang tersedia, semakin sulit pula alasan bagi desainer untuk terus membuka platform tersebut.

Lalu apakah AI ikut berperan?

Nah, bagian ini yang menurut saya paling menarik untuk dibicarakan.

Sekarang kita hidup di kondisi yang sangat berbeda dibandingkan ketika platform sayembara online seperti LogoContest mulai populer. Pemilik bisnis memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan identitas visual.

Ada template, logo maker, marketplace freelance, generator gambar, software desain yang semakin mudah digunakan, dan sekarang tentu saja AI.

AI atau Artificial Intelligence, yang dalam bahasa Indonesia berarti kecerdasan buatan, sudah mulai digunakan untuk berbagai kebutuhan kreatif. Orang yang sebelumnya sama sekali tidak mengerti desain sekarang bisa meminta sebuah sistem AI menghasilkan ide visual hanya dengan memberikan instruksi berbentuk teks.

Perubahan ini bukan sekadar dugaan. Survei Reimagine Main Street terhadap hampir 1.000 bisnis kecil di Amerika Serikat pada 2025 menemukan bahwa lebih dari separuh responden sedang mengeksplorasi penggunaan AI, sementara sekitar seperempatnya sudah mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas sehari-hari.

Squarespace juga melaporkan dalam riset kewirausahaan 2025 bahwa AI semakin digunakan oleh pemilik usaha untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembuatan dan pengeditan konten serta pekerjaan yang berkaitan dengan identitas brand.

Artinya, cara pemilik usaha mengerjakan kebutuhan kreatif memang sedang berubah.

Tetapi apakah perubahan tersebut otomatis berarti mereka tidak membutuhkan desainer?

Belum tentu.

Membuat gambar dengan AI bukan berarti membuat identitas brand

Ini bagian yang menurut saya sering terlalu disederhanakan.

AI bisa menghasilkan gambar logo dalam waktu singkat. Tetapi sebuah gambar yang terlihat seperti logo belum tentu merupakan logo yang siap digunakan sebagai identitas sebuah brand.

Desainer biasanya harus memikirkan banyak hal lain. Apakah bentuknya masih terbaca ketika ukurannya sangat kecil? Apakah logonya tetap terlihat bagus ketika dicetak hitam putih? Apakah bentuknya mudah digunakan pada kemasan? Bagaimana hubungan antara simbol dengan tipografinya? Apakah desain tersebut terlalu mirip dengan identitas yang sudah ada?

Belum lagi masalah file dan penggunaannya. Logo profesional biasanya membutuhkan format vektor agar bisa diperbesar dan diperkecil tanpa kehilangan kualitas. Vektor adalah format grafis yang menggunakan garis dan bentuk matematis sehingga tidak bergantung pada jumlah piksel seperti gambar raster.

AI tentu bisa membantu proses mencari ide. Bahkan seorang desainer pun bisa menggunakan AI sebagai bagian dari proses kreatif. Namun antara "mendapatkan gambar" dan "membangun identitas visual sebuah brand" masih ada proses yang cukup panjang.

Karena itu saya kurang setuju kalau setiap platform desain yang sepi langsung dikaitkan dengan AI.

Bisa jadi masalahnya justru perubahan perilaku pemilik brand

Menurut saya, ini kemungkinan yang jauh lebih luas.

Dulu seorang pemilik usaha yang membutuhkan logo mungkin hanya memiliki beberapa pilihan. Mencari desainer secara langsung, menggunakan jasa agensi, atau mengikuti sayembara.

Sekarang pilihannya jauh lebih banyak.

Mereka bisa mencari desainer lewat media sosial, marketplace freelance, komunitas, platform jasa desain, template, logo maker, atau mencoba membuat konsep sendiri menggunakan AI.

Akibatnya, platform sayembara tidak lagi menjadi satu-satunya jalan untuk mendapatkan banyak alternatif desain.

Dan di sinilah model seperti LogoContest menghadapi tantangan.

Platform sayembara membutuhkan dua pihak yang sama-sama aktif. Pemilik brand harus terus membuat kontes, sementara desainer harus terus datang dan mengirimkan karya. Kalau pemilik brand mulai berkurang, desainer ikut pergi karena tidak ada kontes yang bisa diikuti. Ketika desainer berkurang, pemilik brand juga bisa kehilangan alasan untuk menggunakan platform tersebut karena jumlah peserta semakin sedikit.

Tidak perlu ada satu penyebab tunggal.

Sebuah platform bisa saja perlahan kehilangan aktivitas karena banyak perubahan kecil yang terjadi bersamaan.

Yang menarik, kontes besar masih bisa muncul di tengah kondisi yang sepi

Ini yang menurut saya menjelaskan kenapa pengalaman saya pada 2025 terasa agak membingungkan.

Di satu sisi, saya bisa melihat periode ketika kontes terasa sangat sedikit.

Di sisi lain, ketika melihat arsipnya sekarang, ternyata beberapa kontes masih mampu mendapatkan ratusan submission.

Jadi LogoContest bukan seperti lampu yang tiba-tiba dimatikan.

Lebih mirip lampu yang perlahan meredup, sementara di beberapa ruangan masih ada yang menyala terang.

Satu kontes bisa saja mendapatkan 300 atau 500 desain, tetapi kalau setelah itu kontes baru tidak muncul secara rutin, desainer tetap akan merasa bahwa platform tersebut semakin sepi.

Menurut saya, ini juga yang membuat perubahan tersebut sulit terlihat kalau hanya melihat satu atau dua kontes.

Kita harus melihat kebiasaan pengguna dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Dan sebagai orang yang pernah mengikuti kontes di sana, saya merasakan perubahan tersebut dari sisi yang sangat sederhana: semakin jarang ada alasan untuk membuka website.

Yang tersisa sekarang justru kenangannya

Kalau saya membuka kembali jejak LogoContest yang masih bisa ditemukan, ada banyak hal yang membuat saya bernostalgia. Masih ada halaman kontes, nama desainer, jumlah submission, ranking, komentar dari pemilik brand, sampai percakapan mengenai perubahan desain selama kontes berlangsung.

Bagi orang yang tidak pernah ikut, semua itu mungkin cuma data di sebuah halaman website.

Bagi desainer yang pernah berkompetisi di sana, ceritanya berbeda.

Satu angka submission berarti ada puluhan atau ratusan desain yang benar-benar dibuat oleh manusia. Satu ranking berarti ada desainer yang mungkin menunggu apakah karyanya akan naik atau justru turun. Satu komentar klien bisa membuat kita mengubah konsep yang sudah dibuat berjam-jam.

Dan di antara semua itu, saya pernah menjadi salah satu orang yang mengirimkan desain.

Saya pernah menunggu.

Saya pernah bersaing.

Dan saya pernah menang.

Itulah kenapa hilangnya LogoContest terasa sedikit berbeda bagi saya.

Bukan karena dunia desain membutuhkan website tersebut untuk terus hidup. Jelas tidak. Dunia desain akan terus berjalan dengan atau tanpa LogoContest.

Tetapi karena website itu pernah menjadi salah satu tempat saya mendapatkan pengalaman dan kemenangan sebagai desainer.

Jadi, apakah AI yang membunuh LogoContest?

Kalau pertanyaannya harus dijawab dengan bukti yang tersedia sekarang, saya tidak punya dasar untuk mengatakan bahwa AI adalah penyebab LogoContest berhenti beroperasi.

Yang bisa kita lihat adalah industri desain memang sedang berubah. AI membuat pembuatan konsep visual menjadi jauh lebih mudah diakses, sementara pemilik usaha sekarang memiliki semakin banyak alternatif untuk mendapatkan kebutuhan desain mereka.

Pada saat yang sama, jejak LogoContest menunjukkan bahwa pada 2025 platform tersebut masih menjalankan kontes dan beberapa kontes bahkan mendapatkan ratusan kiriman desain. Jadi jelas bukan berarti tidak ada lagi orang yang tertarik mengikuti sayembara logo.

Tetapi dari pengalaman saya sendiri, frekuensi kontes pada 2025 memang sudah terasa jauh lebih sepi. Kemudian pada 2026, saya tidak lagi bisa mengakses LogoContest seperti sebelumnya.

Mungkin penyebab sebenarnya ada pada perubahan pasar. Mungkin ada persoalan internal. Mungkin pemilik brand memang semakin sedikit yang menggunakan platform tersebut. Mungkin AI ikut memberikan tekanan. Mungkin semuanya terjadi bersamaan.

Tanpa penjelasan resmi dari pengelolanya, kita memang tidak bisa menunjuk satu penyebab dan menganggapnya sebagai fakta.

Yang jelas, saya cukup menyayangkan kalau perjalanan LogoContest benar-benar sudah berakhir.

Sebab saya pernah beberapa kali menang di sana. Dan ketika sebuah website yang pernah menjadi tempat kita mencari rezeki, belajar membaca kemauan klien, menguji kemampuan desain, sekaligus bersaing dengan desainer lain akhirnya menghilang, rasanya memang sedikit berbeda.

Ada website yang mati lalu kita lupa.

Ada juga website yang mati lalu membuat kita berkata, "Wah, dulu saya pernah sering main di sana."

Buat saya, LogoContest masuk yang kedua.

Dan mungkin memang begitulah akhirnya sebuah website lama pergi. Bukan dengan pengumuman besar atau berita di mana-mana, tetapi perlahan sepi, semakin jarang dibuka, lalu suatu hari kita mencoba kembali dan mendapati bahwa tempat yang dulu kita kenal sudah tidak ada seperti sebelumnya.

LogoContest mungkin memang harus mati mengenaskan. Tetapi setidaknya saya pernah menjadi bagian kecil dari cerita di dalamnya.