Bagi yang sering melihat video musik di YouTube, mungkin sudah tidak asing dengan tampilan audio visualizer. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari garis yang bergerak mengikuti suara, batang-batang equalizer yang naik turun, lingkaran yang berdenyut mengikuti musik, sampai visual yang lebih kompleks dan penuh efek.

Menariknya, membuat visual seperti itu tidak selalu membutuhkan proses yang rumit. Salah satu software yang bisa digunakan untuk membuatnya adalah Adobe After Effects. Software ini memang banyak digunakan untuk kebutuhan motion graphics dan animasi, termasuk membuat visual yang dapat mengikuti perubahan suara.

Pada artikel ini saya ingin membagikan sebuah tutorial dari channel YouTube Avnish Parker yang membahas cara membuat audio visualizer dengan After Effects. Tutorial tersebut menarik untuk disimak karena pendekatannya cukup sederhana dan ditujukan untuk menghasilkan visualizer dengan beberapa langkah yang relatif mudah.

Apa Itu Audio Visualizer?

Secara sederhana, audio visualizer adalah tampilan visual yang dibuat untuk merepresentasikan suara atau musik. Ketika suara berubah, elemen visual juga ikut berubah sehingga penonton dapat melihat semacam gambaran dari karakter audio yang sedang diputar.

Contohnya bisa dilihat pada equalizer. Ketika bagian tertentu dari musik memiliki energi suara yang lebih tinggi, batang visual dapat terlihat naik. Ketika intensitas suara menurun, batang tersebut ikut turun.

Visualizer juga tidak harus selalu berbentuk batang. Dalam motion graphics, data atau karakteristik audio dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat garis, lingkaran, gelombang, partikel, maupun berbagai bentuk animasi lainnya.

Karena itu, audio visualizer sering digunakan pada video musik, video promosi lagu, konten YouTube, visual untuk pertunjukan musik, maupun berbagai karya motion graphics.

Membuat Visualizer Dengan After Effects

Adobe After Effects sendiri menyediakan fitur yang memang berkaitan langsung dengan visualisasi audio. Salah satunya adalah Audio Spectrum.

Menurut dokumentasi Adobe, Audio Spectrum dapat digunakan untuk menampilkan spektrum audio dari sebuah layer yang memiliki audio. Pengguna dapat menentukan rentang frekuensi yang ingin ditampilkan melalui pengaturan seperti Start Frequency dan End Frequency. Efek tersebut juga dapat ditampilkan mengikuti sebuah mask path, sehingga bentuk visualnya tidak harus berupa garis lurus.

Selain Audio Spectrum, After Effects juga memiliki Audio Waveform. Efek ini digunakan untuk menampilkan bentuk waveform dari audio dan dapat ditempatkan mengikuti open maupun closed mask path. Dengan demikian, pengguna mempunyai beberapa pilihan untuk menentukan bagaimana suara akan diterjemahkan menjadi elemen visual.

Inilah salah satu alasan After Effects cukup menarik untuk membuat visualizer. Audio tidak hanya menjadi suara yang ditempatkan di belakang video, tetapi dapat menjadi bagian dari proses animasi itu sendiri.

Tutorial Audio Visualizer Dari Avnish Parker

Untuk pembahasan kali ini, saya merujuk pada tutorial dari channel YouTube Avnish Parker yang membahas pembuatan audio visualizer menggunakan After Effects.

Dalam video tersebut, Avnish Parker memperkenalkan sebuah tutorial untuk membuat audio visualizer dengan pendekatan yang lebih sederhana dibandingkan tutorial visualizer sebelumnya yang ia buat. Video tersebut juga membahas pembuatan audio spectrum, music equalizer, serta cara membuat visual yang bereaksi terhadap audio.


Tutorial tersebut bisa menjadi referensi yang cukup menarik, terutama bagi pengguna After Effects yang baru mulai bereksperimen dengan animasi berbasis audio.

Daripada hanya membuat animasi secara manual menggunakan keyframe satu per satu, konsep audio visualizer memungkinkan perubahan pada suara digunakan sebagai dasar pergerakan elemen visual.

Bagaimana After Effects Membaca Audio?

Salah satu konsep penting yang perlu dipahami adalah bahwa After Effects dapat menggunakan informasi dari audio untuk menghasilkan perubahan pada elemen animasi.

After Effects memiliki fitur Convert Audio To Keyframes. Fitur ini menganalisis amplitude audio dalam area kerja kemudian membuat keyframe berdasarkan perubahan amplitude tersebut. Setelah proses tersebut dilakukan, After Effects membuat sebuah layer bernama Audio Amplitude yang memiliki kontrol untuk Left Channel, Right Channel, dan Both Channels.

Keyframe tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghubungkan perubahan audio dengan properti lain pada layer.

Sebagai contoh sederhana, perubahan amplitude audio dapat digunakan untuk mengubah nilai Scale sebuah objek. Ketika amplitude meningkat, objek dapat dibuat membesar, kemudian mengecil kembali ketika amplitude turun.

Konsep inilah yang membuat animasi terasa seolah-olah mengikuti musik secara otomatis.

Visualizer Tidak Hanya Sekadar Hiasan

Lalu sebenarnya apa fungsi audio visualizer?

Dalam banyak kasus, visualizer memang digunakan sebagai elemen visual untuk membuat konten musik terlihat lebih menarik. Sebuah lagu yang hanya menampilkan gambar statis dapat terasa berbeda ketika ditambahkan animasi yang bergerak mengikuti audio.

Visualizer juga dapat membantu memberikan identitas visual pada sebuah konten musik. Bentuk, warna, tipografi, gerakan, dan komposisinya dapat disesuaikan dengan karakter lagu atau identitas sebuah proyek.

Misalnya, musik elektronik bisa menggunakan visual yang lebih abstrak dan dinamis. Sementara musik dengan karakter yang lebih tenang dapat menggunakan waveform atau animasi yang lebih sederhana.

Jadi, visualizer tidak harus selalu dibuat sekompleks mungkin. Justru desain yang sederhana pun bisa terlihat menarik apabila gerakannya sesuai dengan karakter musik yang digunakan.

Audio Spectrum dan Audio Waveform Punya Fungsi Berbeda

Bagi yang baru menggunakan After Effects, istilah audio spectrum dan audio waveform mungkin terdengar mirip. Padahal keduanya digunakan untuk menampilkan karakteristik audio dengan cara yang berbeda.

Audio Waveform lebih berfokus pada bentuk gelombang audio. Tampilan waveform dapat memberikan gambaran mengenai perubahan sinyal suara dari waktu ke waktu.

Sementara itu, Audio Spectrum menampilkan informasi berdasarkan frekuensi audio dalam rentang yang ditentukan. After Effects menyediakan pengaturan seperti Frequency Bands dan Maximum Height untuk mengatur bagaimana spektrum tersebut ditampilkan.

Perbedaan tersebut membuat keduanya bisa menghasilkan tampilan visual yang cukup berbeda meskipun sama-sama menggunakan audio sebagai sumbernya.

Cocok Untuk Belajar Motion Graphics

Tutorial seperti yang dibuat Avnish Parker juga bisa menjadi titik awal yang bagus untuk memahami hubungan antara audio dan animasi.

Setelah memahami konsep dasarnya, pengguna tidak harus berhenti pada bentuk visualizer yang sama persis dengan tutorial. Informasi audio yang sudah tersedia dapat dikembangkan menjadi berbagai macam animasi.

Misalnya, amplitude audio dapat dihubungkan dengan Scale, Opacity, Rotation, atau properti animasi lainnya. Dengan kombinasi tersebut, satu sumber audio dapat menghasilkan banyak kemungkinan visual.

Hal yang menarik dari pendekatan ini adalah pengguna dapat mulai memahami bagaimana data dari sebuah audio bisa diterjemahkan menjadi gerakan visual.

Tidak Harus Membuat Semuanya Dari Nol

Salah satu kesalahpahaman ketika belajar membuat visualizer adalah menganggap semua elemen harus dibuat secara manual.

Padahal After Effects sudah menyediakan sejumlah fitur yang dapat membantu proses tersebut. Selain Audio Spectrum dan Audio Waveform, Convert Audio To Keyframes juga dapat digunakan ketika ingin menghubungkan perubahan amplitude dengan properti animasi lainnya.

Dengan memahami fungsi masing-masing fitur, proses eksperimen menjadi lebih mudah. Pengguna tinggal menentukan apakah ingin menampilkan frekuensi audio, waveform, atau menggunakan amplitude sebagai sumber gerakan untuk objek lain.

Dari sana, kreativitas desain menjadi bagian yang lebih besar dari prosesnya.