Tidak Bosan, Nokia E63 Adalah Hape Tua Yang Masih Seru Di Pegang

Di tengah smartphone sekarang yang semakin canggih, rasanya hampir semua hal sudah tersedia dalam satu perangkat. Layar semakin besar, kamera semakin banyak, aplikasi semakin lengkap, koneksi internet semakin cepat, bahkan sekarang berbagai fitur berbasis AI mulai menjadi bagian dari smartphone.
Tapi anehnya, semakin canggih sebuah smartphone, belum tentu semakin seru untuk dimainkan.
Saya justru masih merasakan keseruan yang berbeda ketika memegang sebuah Nokia E63. Hape yang secara usia sudah sangat jauh tertinggal dibandingkan smartphone sekarang ini ternyata masih punya sesuatu yang membuat saya betah mengutak-atiknya.
Bukan karena kameranya bagus. Bukan karena layarnya besar. Apalagi karena performanya bisa menandingi smartphone modern.
Justru karena semuanya sederhana.
Dan kesederhanaan itulah yang membuat Nokia E63 terasa berbeda.
Nokia E63 dan Masa Symbian
Nokia E63 merupakan salah satu perangkat dari keluarga Eseries yang diperkenalkan Nokia pada era ketika smartphone belum seperti sekarang. Nokia mencatat E63 sebagai perangkat dengan keyboard QWERTY penuh yang diluncurkan untuk membuat lini Eseries lebih mudah dijangkau oleh pengguna yang lebih luas. Perangkat ini mulai dikirimkan Nokia pada 2008.
Yang membuat saya tertarik tentu saja bukan sekadar nama Nokia Eseries-nya, melainkan sistem operasi yang digunakan.
Nokia E63 menggunakan Symbian S60 3rd Edition.
Buat pengguna smartphone sekarang, mungkin Symbian terdengar seperti sesuatu yang sangat tua. Tetapi bagi orang yang pernah menggunakannya, sistem operasi ini punya pengalaman tersendiri.
Ada rasa seperti sedang memiliki komputer kecil yang bisa diutak-atik.
Bagi saya, bagian inilah yang membuat E63 belum terasa membosankan.
Serunya Mengutak-atik Symbian
Salah satu alasan saya masih senang dengan Nokia E63 adalah karena saya bisa melakukan berbagai macam eksperimen dengan perangkat tersebut.
Mulai dari membuat atau mengganti tema, memasang aplikasi, mencoba berbagai modifikasi sampai bermain game dengan berbagai macam trik.
Pengalaman seperti ini mungkin terdengar biasa saja bagi pengguna smartphone sekarang. Bukankah Android juga bisa dimodifikasi?
Memang.
Tetapi sensasinya berbeda.
Pada zaman Symbian, mencari aplikasi, mencoba sebuah file, mengganti tampilan, kemudian melihat hasilnya di layar kecil menjadi sebuah kesenangan tersendiri.
Kadang bukan hasil akhirnya yang penting. Proses mencoba-cobanya justru yang membuat penasaran.
Ada rasa ingin tahu seperti, "Kalau aplikasi ini dipasang, jadinya bagaimana?"
Atau, "Kalau tampilan ini diganti, apakah cocok?"
Dari situ kita bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk mengutak-atik sebuah ponsel.
Bagi saya, Nokia E63 bukan sekadar alat komunikasi. Ia juga seperti benda untuk bereksperimen.
Bukan Benar-Benar Open Source
Ada satu hal yang perlu diluruskan dari pengalaman saya di atas.
Saya menyebut Symbian terasa sangat "open source" karena dari sisi pengguna, ekosistemnya dulu memang terasa cukup terbuka untuk eksplorasi, modifikasi, aplikasi pihak ketiga, dan berbagai eksperimen.
Tetapi secara teknis, Symbian OS bukan berarti sistem operasi open source sepenuhnya dalam pengertian seperti Linux.
Jadi istilah "open source" di sini lebih tepat dipahami sebagai kesan penggunaan dan luasnya ruang eksplorasi yang saya rasakan sebagai pengguna Symbian pada masa itu, bukan klaim bahwa seluruh sistem operasi Nokia E63 bebas diakses dan dimodifikasi seperti proyek open source modern.
Justru pengalaman seperti inilah yang membuat Symbian memiliki komunitas pengguna yang cukup aktif pada masanya.
Keyboard QWERTY Yang Membuat Betah
Hal lain yang membuat Nokia E63 terasa menyenangkan adalah keyboard-nya.
Smartphone sekarang hampir semuanya mengandalkan layar sentuh. Kita mengetik dengan menyentuh keyboard virtual yang muncul di layar.
Praktis? Tentu.
Tetapi apakah seru?
Belum tentu.
Nokia E63 menawarkan pengalaman yang sama sekali berbeda karena menggunakan keyboard QWERTY fisik. Nokia sendiri mencantumkan full QWERTY keyboard sebagai salah satu karakteristik utama E63 ketika perangkat tersebut diperkenalkan.
Bagi saya, memegang E63 kemudian mengetik menggunakan tombol-tombol kecilnya memiliki sensasi yang sulit digantikan layar sentuh.
Tombolnya terasa empuk dan masing-masing memiliki posisi yang jelas.
Jari bisa berpindah dari satu tombol ke tombol lain tanpa harus melihat keyboard virtual yang berubah-ubah di layar.
Apalagi kalau digunakan untuk chatting.
Di sinilah E63 terasa sangat cocok.
Walaupun sekarang mengetik menggunakan smartphone layar sentuh sudah menjadi kebiasaan, keyboard fisik memberikan pengalaman yang berbeda. Ada feedback dari setiap tekanan tombol. Kita benar-benar merasa sedang mengetik, bukan sekadar menyentuh permukaan layar.
Mungkin terdengar sepele.
Tapi justru hal-hal kecil seperti inilah yang membuat sebuah perangkat terasa menyenangkan untuk digunakan.
E63 dan Masa Ketika SMS Masih Menjadi Bagian Penting
Sebelum aplikasi chat modern mendominasi komunikasi, SMS merupakan salah satu cara utama untuk berkirim pesan.
Nokia E63 sendiri hadir pada masa tersebut.
Tetapi menariknya, pengalaman SMS di Symbian tidak selalu harus terasa seperti aplikasi pesan bawaan yang sederhana.
Ada aplikasi pihak ketiga seperti i-SMS yang membuat tampilan SMS menjadi seperti percakapan chat.
i-SMS dikenal sebagai aplikasi untuk perangkat Symbian S60 yang mengelompokkan pesan berdasarkan percakapan dengan kontak, sehingga SMS dan MMS dapat ditampilkan dalam format threaded conversation. Aplikasi tersebut juga tercatat mendukung Nokia E63.
Kalau melihatnya sekarang memang mungkin tidak terlalu mengejutkan.
Namun pada zamannya, mengubah tampilan SMS biasa menjadi percakapan seperti chat terasa keren.
Bahkan komunitas pengguna Nokia E63 di berbagai forum pada masa itu membicarakan penggunaan i-SMS untuk mendapatkan tampilan percakapan yang lebih mirip aplikasi chatting.
Saya sendiri melihat hal seperti ini sebagai salah satu contoh menarik dari karakter Symbian.
Ketika fitur bawaan terasa kurang sesuai dengan keinginan, kita bisa mencari aplikasi lain untuk mengubah pengalaman menggunakan ponsel.
Rasanya Seperti Membuat Smartphone Sendiri
Inilah bagian yang paling saya sukai dari menggunakan Nokia E63.
Ada perasaan bahwa ponsel tersebut bisa dibuat menjadi "milik sendiri".
Bukan dalam arti perangkatnya benar-benar dibuat dari nol, tetapi pengalaman penggunaannya dapat diubah sesuai selera.
Tema bisa diganti.
Aplikasi bisa ditambah.
Tampilan bisa dimodifikasi.
Game bisa dicoba dengan berbagai trik.
Aplikasi SMS bisa diganti dengan tampilan yang berbeda.
Hal-hal sederhana seperti itu membuat setiap Nokia E63 yang digunakan seseorang bisa memiliki karakter yang berbeda.
Sekarang kita memang bisa mengganti wallpaper, launcher, widget, ikon, font, atau berbagai aspek lain pada smartphone tertentu. Tetapi pada E63, proses utak-atik tersebut terasa lebih dekat dan lebih personal.
Mungkin karena keterbatasan perangkatnya justru membuat kita lebih menghargai perubahan kecil.
Game Symbian Juga Punya Keseruan Sendiri
Selain aplikasi, game merupakan bagian lain yang membuat ponsel Symbian menarik untuk dimainkan.
Nokia E63 memang bukan smartphone gaming seperti perangkat modern. Tetapi pada masanya, game untuk Symbian dan Java menjadi salah satu hiburan yang cukup menarik.
Yang membuat saya pribadi senang bukan hanya memainkan game tersebut, tetapi juga mencoba berbagai trik dan modifikasi.
Bagi pengguna yang memang suka mengutak-atik perangkat, game bisa menjadi bahan eksperimen tambahan.
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil membuat sesuatu bekerja seperti yang diinginkan.
Dan lagi-lagi, hal tersebut bukan tentang seberapa bagus grafiknya.
Smartphone sekarang bisa menjalankan game dengan grafik yang jauh lebih kompleks. Tetapi pengalaman bermain game di sebuah ponsel QWERTY kecil dengan sistem operasi Symbian mempunyai karakter yang berbeda.
Kenapa Hape Tua Seperti Ini Masih Menyenangkan?
Mungkin ada yang bertanya, untuk apa menggunakan Nokia E63 ketika smartphone modern sudah jauh lebih canggih?
Jawabannya sederhana.
Karena tidak semua kesenangan berasal dari spesifikasi.
Smartphone modern memang menawarkan layar yang lebih baik, aplikasi yang jauh lebih banyak, kamera yang lebih mumpuni, koneksi internet yang jauh lebih cepat dan berbagai fitur yang dulu bahkan sulit dibayangkan.
Namun kecanggihan tersebut juga membuat sebagian pengalaman menjadi sangat instan.
Pasang aplikasi tinggal mencari di toko aplikasi.
Ganti tampilan tinggal memilih pengaturan.
Mengetik tinggal menyentuh layar.
Semuanya dibuat semakin mudah.
Nokia E63 justru berada di sisi yang berbeda.
Ada proses mencari.
Ada proses mencoba.
Ada proses gagal.
Ada rasa penasaran.
Dan bagi saya, proses-proses kecil tersebutlah yang membuatnya seru.
Bukan Berarti Smartphone Sekarang Tidak Menyenangkan
Saya juga tidak bermaksud mengatakan bahwa Nokia E63 lebih baik daripada smartphone sekarang.
Kalau bicara kemampuan teknis, jelas perangkat modern berada di generasi yang sangat berbeda.
Nokia sendiri pada masa Eseries memang memosisikan perangkat seperti E63 untuk kebutuhan komunikasi, email, konektivitas dan produktivitas. Dalam laporan tahun 2008, Nokia menyebut E63 sebagai perangkat dengan full QWERTY keyboard dan berbagai fitur multimedia, sementara platform S60 juga mendukung kebutuhan seperti email dan konektivitas korporat.
Jadi, membandingkannya secara langsung dengan smartphone modern juga sebenarnya kurang adil.
Yang saya bicarakan di sini lebih kepada pengalaman menggunakan.
Ada jenis kesenangan yang saya dapatkan ketika memegang E63 yang tidak selalu saya dapatkan ketika menggunakan smartphone modern.
Dan itu adalah hal yang sangat subjektif.
Ada Kepuasan Saat Memegangnya
Selain sistem operasi dan aplikasinya, ada faktor yang sebenarnya sangat sederhana: bentuk fisiknya.
Ketika Nokia E63 berada di tangan, keyboard QWERTY langsung menjadi bagian yang paling terasa.
Jempol bisa langsung mencari tombol.
Menekan tombol satu per satu terasa berbeda dibandingkan mengetik menggunakan layar sentuh.
Apalagi bagi orang yang memang suka chatting.
Pada masa ketika SMS, forum, messenger, dan berbagai aplikasi chatting masih menjadi bagian besar dari aktivitas internet melalui ponsel, perangkat dengan keyboard fisik seperti E63 terasa sangat masuk akal.
Tidak heran kalau perangkat dengan QWERTY seperti E63 dan E71 menjadi bagian dari lini Eseries Nokia pada masa tersebut. Nokia bahkan mencatat E71 sebagai perangkat QWERTY Eseries lainnya dalam laporan perusahaan pada periode yang sama.
Nokia E63 Bukan Sekadar Hape Tua
Pada akhirnya, alasan saya masih menganggap Nokia E63 seru bukan karena saya menganggap teknologi lama lebih hebat daripada teknologi baru.
Saya justru menyukainya karena menawarkan pengalaman yang berbeda.
Smartphone sekarang semakin pintar, semakin cepat dan semakin banyak fitur. Bahkan sekarang AI sudah mulai menjadi bagian dari pengalaman menggunakan ponsel.
Tetapi ketika saya kembali memegang Nokia E63, rasanya seperti kembali ke masa ketika sebuah ponsel masih bisa membuat saya penasaran hanya karena ingin mencoba satu aplikasi, mengganti satu tema, mengutak-atik sistem, atau sekadar mengetik pesan menggunakan keyboard QWERTY-nya.
Ada kepuasan sederhana di sana.
Hape ini mungkin sudah tua, tetapi belum tentu membosankan.
Justru karena keterbatasannya, Nokia E63 memberikan ruang untuk bereksperimen. Dan bagi orang yang memang suka mengutak-atik teknologi, ruang kecil seperti itu terkadang jauh lebih menyenangkan daripada perangkat yang semuanya sudah serba otomatis.
Mungkin itu juga alasan mengapa sampai sekarang, ketika melihat dan memegang Nokia E63 lagi, saya masih bisa merasa seperti menemukan mainan lama yang ternyata belum kehilangan keseruannya.
Agus Triana
Content creator and designer at Agustriana.my.id, sharing knowledge, tutorials, design tips, and application reviews.
Add Comment